Selasa, 23 Maret 2010

Nyanyian Pengantin Baru


Ke Minang sudah ke tanah sunda
Bulan merah dipohon jambu
Kupinang sudah, kunikah juga
Jangan marah kalau kucumbu


Kelopak mawar gaun beludru
Sabuk mayang disenja hari
Semerbak segar harum tubuhmu
Kupeluk dengan restu ilahi


Jika belukar beronak duri
Belimbing hijau berulam tiga
Jika bertengkar suami istri
Kubimbing kau ke tilam juga



Jika dijumpa bunga setanggi
Di hampar kain sutra dewangga
Bila curiga aku berbagi
Di kamar lain buktikan juga


Jika berembun dahan pelepah
Kubawa satin ke pulau Bali
Jika kubangun rumah nan megah
Kuhanya ingin engkau disini


Hutan bakau di tanah Rangkah
Bila kehilir taman melati
Kubawa engkau ke tanah Makkah
Bila t'lah lahir anakku nanti


Lokan Sumbawa di tengah kali
Mahkota bunga bergading gajah
Akan kubawa si Nur Ilahi
Moga bersama raih fadhilah


Dawai ditutup kayu mahoni
Pohon semangka berbuah salak
Damailah hidup denganmu dewi
Jodohku hingga di surga kelak



Amin Amin ! Allahumma Sholli Ala Muhammad !


* * *

M. Syarif. Kh.
Oktober 2009

Sindiran Cinta Masa Remaja



Siapa itu yang bermain mata ?

Seorang dara secantik bunga
tersipu malu di ambang senja
Seorang Jaka setampan dewa
memandang kagum wajah jelita

Sang Dara melirik
Sang Jaka terpesona

* * *

 





Siapa pertama ingin kenalan ?

Dara jelita harap berjumpa
bertemu lagi pria pujaan
Jejaka tampan menitip salam
kepada angin pada rembulan

Sang Dara berdo'a
Sang Jaka berkhayal


* * *

Siapa tak bisa tenangkan jiwa ?

Dara jelita tersiksa rindu
hingga menetes si airmata
Jejaka tampan tersiksa cinta
hingga bibirnya tak bersuara

Sang Dara tak mampu lena
Sang Jaka resah ingin kesana


* * *


Siapa yang ingin segera lamaran ?

Dara jelita s'lalu berdoa
Pria pujaan datang meminang
Jejaka tampan berharap cemas
Diterimakah tanda ikatan ?

Sang Dara mengulur jemari tangan
Sang Jaka ragu bilang tunangan


* * *
 

Siapa berkhayal Malam Pertama ?

Sang dara jatuh ke tilam bunga
bermimpi cinta di dalam surga
Sang Jaka hening di dalam kamar
berharap hati tidak gemetar

Sang Dara menunggu
Sang Jaka terpaku


* * *


M. Syarif Kh.
Oktober 2009

Mempelai Sunyi Tanpa Pengantin

 
















Hei …..
Lihatlah bulan bersemadi
Tahukah kamu mengapa bulan membisu ?

Janji suci kau ucapkan dulu
Hilang sirna ditelan waktu
Kenanganmu telah berlalu
Kini engkau tak bersamaku

Dinda ….
Hatiku-lah bulan itu


********************************



Hei ….
Lihatlah mawar di lingsir malam
Tahukah kamu mengapa mawar meluruh ?

Cincin emas aku berikan
S'bagai tanda satu ikatan
Tapi hatimu ragu dan bimbang
Bahwa kelak aku 'kan pulang

Dinda
Janjiku-lah mawar yang runtuh


********************************

Hei
Lihatlah hujan menitik
Tahukah kamu mengapa rinainya selalu jatuh ?

Mohon pejamkan matamu yang ayu
Ingin kubisikkan kedalam hatimu
Bahwa kasihku selalu tumbuh
Kandati engkau t'lah pergi jauh

Dinda
Cintaku tak pernah dibunuh waktu


********************************

Hei
Dengarlah angin mengembara
Tahukah kamu mengapa angin tak berlabuh ?

Taman bunga telah kutata
Demi janji untuk menikah
Namun hatimu berbelah rasa
Kini hatiku remuklah sudah

Dinda
Jiwaku-lah angin berkelana


********************************


M. Syarif Kh
Nopember 2009

Yang Maha Narsis

 










Engkaukah yang memuji tanah disela geriung topan ?
Yang berdandan di tepi malam dan di jantung matahari
Di semesta alam Engkau hanya bergumam
tentang diri Mu sendiri ...


Pada wujud yang fana Engkau lahirkan beribu manifestasi
Serentak terpesona lantas saling mengagumi
padahal yang sedang bercermin disini
hanyalah diri Mu sendiri




Begitu permainan di mulai sejak awal Kau ciptakan alam
tiba-tiba Kau titahkan Iblis agar memuji Adam
Padahal yang sesungguhnya disujudi
adalah diri Mu sendiri


Segera dunia Engkau penuhi dengan tawa dan airmata
agar dapat Kau torehkan tinta di lauh Mu yang azali
padahal yang dipentaskan bersandiwara
adalah rencana Mu sendiri


Huwa Allah Alladzy laa ilaaha illa hu. Huwa al Jabbar al Mutakabbir



M. Syarif Kh.
Pebruari 2010

Puisi Ini Sangat Rahasia

Mohon jangan bilang-bilang pada yang lain
Karena puisi ini sangat rahasia
.
.
.
.
.
.
.
.

.
Itu sebabnya tak kutulis disini ....
.
.
.
Maaf ya ....








M. Syarif Kh
Maret 2010

Kerana Engkau Suamiku, Teduhi Aku Istrimu


Ijinkan sejenak aku bicara dari hati ke hati
Serta memohon agar kau tidak bergegas pergi
Engkau suamiku,
dan aku istrimu
Bukan maksudku tuk menahanmu di sangkar besi

Sayang,
jikalau mawar tak berpagar duri,
tidaklah kumbang kan berhati-hati

 


Ijinkan sejenak aku hidangkan secangkir kopi
Serta memintamu tuk berdiang nikmati pagi
Engkau suamiku,
dan aku istrimu
Bukankah biasa pertengkaran kecil terjadi ?

Sayang,
jika sang bayu tak meniup kembang seruni
apakah mungkin wangi semerbak bisa merasuk di malam hari ?




Ijinkan sejenak aku tuliskan janji nikah dalam prasasti
Serta berharap kita bersatu hingga ke penghujung hari
engkau suamiku,
dan aku istrimu
Besar pintaku sepanjang hayat engkau tidak berbagi kasih

Sayang,
jikalau tangkai tak bersatu dengan melati
tidaklah embun 'kan menetes sejukkan hati




O,
Lelapkan aku menuju pagi
Tenangkan aku di malam hari
Sayang
Engkau suamiku dan aku istrimu
Engkau langitku dan aku bumi-mu
Engkau benihku dan aku juru tamanmu

Besar pintaku penuhi hasrat yang bergemuruh di dalam hati




M. Syarif. Kh.

Maret 2010

Pantun Jawa Jaman Belanda

Ireng-ireng lorek-lorek
Ampyang ketan dirubung semut
Yen kepareng kawulo ndhrek
Pejah gesang kulo nggih tumut

 

Sapa weruh mobat-mabite
Wong baita kaisen toya
Sopo weruh bibit kawite
Wong sak dunyo ra ono sing liya


Sawunggaling carito kuno
Sing digawe kayune jati
Yen eling dang sambangono
Ojo gawe gelaning ati


 

Lelene mati ditutuk
Gowo mrene tak sujanane
Yen merene ra nate petuk
Ndang merene tak entenane



 

Putih-putih kembang randu
Kuning abang kembang palase
Ati seddih nang awak kuru
Kelingan adik ayu rupane


Murak cipir ngrambat kawat
Godong bendho kintir ning kali
Gak mampir mek ketok liwat
Yo wis lego rasa ning ati




*Pantun ini khazanah Sastra Jawa Lama
Tidak tahu siapa yang menciptakan dulunya
Especially 4 Bidadari

Aku Undang Engkau Menari

 
 Hari ini kutulis ditelapak tanganmu undanganku,
bahwa besok malam engkau harus menari

Gelang kaca kau pakai sudah
Kalung nikam selendang merah
Berias engkau berkasut tanah
Menari engkau di atas sajadah



O,
Lihatlah bulan membawa gendang
dan bintang-bintang bergegas menyambut lingsir matahari
Maka mulailah bertasbih
Gerakkan hati dalam kidungan suci

O,
Berputarlah menyucikan bumi

Ini Pantun Bukan Rayuan. Pantun Lama Kampung Seberang


Ke China sudah
Ke Minang sudah
Aku tak ke Jawa lagi
Kucinta sudah
Kupinang sudah
Aku tak kecewa lagi

(Tinggal nyiapin Mas Kawin terus cabuut !)



Serupa batu
Serupa besi
Aku tak membeli lagi
Kau rupa hantu
Kau rupa dewi
Aku tak peduli lagi

(yang penting cinta ! .... hantu lah hantu, biarin)



Menabuh gendang
Menghibur hati
Aku tak bersedih lagi
Meraih angan
Menata mimpi
Aku tak sendiri lagi

(Horee ! .... Akhirnya laku juga gw ! ... Makasih, Tu !)



Berlayar karam
Berhujan lebat
Aku tak berjalan lagi
Berkabar salam
Berkirim surat
Aku tak membalas lagi

(Ternyata sms-an lebih menarik daripada surat-suratan)



Merangkai pita
Menyulam baju
Masihkah ada benangnya ?
Menanya cinta
Menanya rindu
Masihkah engkau setia ?

(Jangan-jangan sudah diambil orang ..... Ya Tuhan)


Maret 2010